PEMERIKSAAN HISTOPATOLOGI DAN SITOPATOLOGI
PEMERIKSAAN SHITOHISTOTEKNOLOGI (SITOLOGI
& HISTOLOGI)
NAMA : NARTI WIDIANA
PRODI : DIV Teknologi Laboratorium Medis
NIM :
18 3145 353 114
KELAS : 2018 C
“PEMERIKSAAN SITOHISTEKNOLOGI”
Sitologi merupakan ilmu pengetahuan yang
mempelajari sel yang berasal dari tubuh manusia baik yang terlepas sendiri
(exfoliated) dari permukaan epitel atau yang diambil dari berbagai tempat
dengan cara tertentu. Berperan untuk menentukan perubahan struktur sel dikenal
dengan istilah sitologi diagnostik. Bahan-bahan yang dapat diperiksa Sitologi :
Urine, dahak, cairan lambung, cairan pleura, ascites, cairan sendi, cairan
cerebrospinal, mukosa alat kelamin wanita, aspirasi jaringan tumor.
Salah satu
kompetensi seorang ATLM yaitu sebagai pelaksana teknis pemeriksaan laboratorium
untuk mendukung penegakan diagnosa suatu penyakit dan tindak lanjutnya. Untuk
itu dibutuhkan sampel yang ada dalam tubuh pasien seperti darah, urin, feses,
sputum, jaringan tubuh (histologi) dan cairan tubuh (sitologi). Untuk sampel darah,
urin, feses, dan sputum dilakukan di laboratorium patologi klinik , sedangkan
sampel jaringan tubuh (histologi) dan cairan tubuh (sitologi) dilakukan di
laboratorium patologi anatomi.
Sitohistoteknologi
merupakan ilmu yang mempelajari tentang preparasi sel-sel dan jaringan tubuh
sampai menjadi sediaan mikroskopis yang digunakan untuk mendiagnosa adanya
kelainan-kelainan dalam tubuh. Diagnosa histopatologi, sampai saat ini masih
merupakan kunci dalam diagnosa sebagian besar penyakit. Diagnosa penyakit
secara histologi dan sitologi dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis.
Untuk mendapatkan sediaan mikroskopis diperlukan metode pewarnaan tertentu. Ada
beberapa teknik pewarnaan yang dilakukan di laboratorium Sitohistoteknologi,
antara lain: pewarnaan Hematoksilin Eosin, pewarnaan Papanicolaou, pewarnaan
khusus imunohistokimia, dll. Laboratorium ini memiliki kekhasan dibandingkan
laboratorium kesehatan lainnya. Hal ini terlihat dari instrumen dan reagen yang
berbeda dan spesifik.
Didalam
pelayanan pemeriksaan laboratorium Patologi Anatomi, pemeriksaan sitologi
dibagi dalam 2 bagian yaitu:
- Pemeriksaan
sitologi exfoliatif misalnya PAP Smear adalah pemeriksaan sitologi dari
apusan cervix uteri
- Sitologi
aspiratif atau FNAB (Fine needle aspirasi biopsi) adalah tindakan medik
untuk mengambil sel dari suatu kelainan organ dengan needle ukuran 22-25
Gauge. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan adanya tumor atau
keradangan.
FNAB /BAJAH
(Sitologi Aspiratif) sudah dilakukan sejak dibukanya pelayanan laboratorium
Patologi Anatomi di RSUDTN, Boalemo yaitu April 2017. Sebagian besar
pemeriksaan ini dilakukan sebelum operasi dan pemeriksaan ini lebih
sederhana,lebih cepat dan tidak terlalu intervesif sedangkan untuk pemeriksaan
sitologi exfoliatif misalnya PAP Smear baru dapat dilaksanakan mulai September
2017, pemeriksaan PAP Smear merupakan salah satu pemeriksaan preventif yang
berperan untuk deteksi dini kanker Rahim selain itu pula dapat menjadi follow
up pasca pengobatan. Pap smear berbeda dengan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual
Asam Asetat). Pada Pap smear adalah pemeriksaan yang berfungsi mendeteksi
perubahan sel-sel leher Rahim (ecto dan endocervix atau bagian luar dan dalam
cervix) sedangkan pada IVA adalah pemeriksaan leher Rahim dengan cara melihat
langsung dengan mata telanjang permukaan leher Rahim (cervix) setelah
memulas dengan larutan asam acetat 3-5%.
Deteksi dini
adalah upaya untuk medeteksi dan mengidentifikasi secara dini adanya kanker
sehingga diharapkan dapat diterapi dan memiliki peluang lebih besar untuk
sembuh (80-90%). Berdasarkan data SIRS (System informasi Rumah sakit Indonesia)
2010 bahwa kanker payudara dan kanker leher Rahim merupakan jenis kanker
tertinggi. Pada pasien rawat inap maupun rawat jalan diseluruh Rumah Sakit di
Indonesia dengan proporsi sebesar 28,7% untuk kanker payudara dan kanker leher
Rahim 12,8%.
Penerapan
praktik K3 seharusnya melekat pada seluruh kegiatan di laboratorium. Ada banyak
bahaya di tempat kerja khususnya di laboratorium sito-histologik. Setiap negara
telah dirancang untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi di
laboratorium sitohistologik. Rancangan yang dibentuk sangatlah bervariasi dari
satu negara ke negara namun memiliki dasar yang bersifat universal. Salah satu
upaya penerapan K3 adalah dengan mengetahui berbagai sumber dari kecelakaan
kerja. Tahapan awal dari identifikasi sumber kecelakaan adalah dengan melakukan
analisa manajemen resiko.
Pelaksanaan
implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di laboratorium secara umum
dapat dilaksanakan dengan tahapan berikut:
1.
Pengetahuan tentang K3 dari
masing-masing personil laboratorium
2.
Kondisi laboratorium yang kondusif dan
sesuai dengan standar minimum untuk bekerja aman di laboratorium
3.
Penataan bahan kimia yang menjadi sumber
bahaya yang sering muncul 4. Tersedianya alat perlindungan diri (APD) yang
lengkap serta jaminan keselamatan dan kesehatan kerja di laboratorium
Setiap laboratorium kesehatan, tentu
ada fasilitas yang berfungsi untuk penanganan suatu spesimen yang didapat dari
pasien. Spesimen yang didapat bisa saja memiliki tingkat resiko baik langsung
maupun tidak langsung. Hal serupa ketika spesimen itu diolah untuk dapat
dijadikan dasar diagnostik pasti suatu penyakit pasien, tentu ada
instrumentasi, bahan pelengkap (kimia atau fisik) dan metode-metode yang
memungkinkan terjadinya kecelakaan kerja. Untuk dapat menghindari dari segala
kecelakaan kerja, seorang teknisi staf laboratorium mulai dari admin hingga
level tertinggi wajib mengetahui resiko kecelakaan. Untuk mengetahui resiko
kecelakaan itu maka setiap orang yang terhubung dengan laboratorium wajib
mengetahui bagaimana cara mengidentifikasi dan megevaluasi faktor resiko.
Setelah mengetahui faktor resiko maka perlu perencanaan untuk meminimalkan
bahkan menghilangkan faktor resiko tersebut. Perencanaan tidak akan terlihat
baik jika tidak diikuti dengan penerapannya. Maka dari itu terapkan apa yang
ditulis dan tulis apa yang telah akan kemungkinan yang akan terjadi serta
antisipasi penanggulangannya.
TEKNIK PEMBUATAN DAN EVALUASI PREPARAT
HISTOLOGI DENGAN PEWARNAAN HEMATOKSILIN EOSIN DI LABORATORIUM
HISTOLOGI DAN BIOLOGI SEL
Pemahaman mulai dari persiapan sebelum pembuatan preparat seperti
anastesi, eutanasia, nekropsi, fiksasi sampai pemotongan ukuran kecil atau
trimming. Pemrosesan jaringan yang dimulai dari dehidrasi, penjernihan,
infiltrasi parafin, pengeblokan, pemotongan slide preparat, pewarnaan hingga
perekatan. Tahap pembuatan preparat jaringan harus diperhatikan agar tidak
terjadi kerusakan akibat kesalahan pemrosesan seperti sobekan, goresan,
lipatan, penumpukan warna dan penyaringan larutan yang kurang bersih sehingga
akan dapat menyebabkan kesalahan dalam penafsiran diagnosis.
Histoteknik merupakan proses membuat sajian histologi dari spesimen
tertentu melalui suatu rangkaian proses hingga menjadi sajian yang siap untuk
diamati atau dianalisa. Sediaan histologi dapat berupa irisan datar yang tipis
dari jaringan atau organ yang telah difiksasi dan diwarnai di atas object
glass. Sajian histologi yang baik dapat digunakan untuk riset, guna mempelajari
perubahan jaringan dan organ tubuh hewan coba yang mendapat perlakuan tertentu
atau mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jaringan atau organ tubuh
tertentu. Irisan datar tersebut nantinya akan memperlihatkan bentuk, ukuran dan
lapisan yang beragam yang terdiri dari struktur seluler, fibrosa dan tubuler.
Rangkaian proses pembuatan sajian histologi dimulai dari pengambilan
organ setelah hewan dilakukan eutanasi kemudian organ dimasukan dalam larutan
garam fisiologis dan selanjutnya organ dimasukan dalam larutan fiksatif.
Rangkaian proses pembuatan preparat histologi melalui beberapa tahapan
diantaranya persiapan seperti euthanasia, nekropsi, fiksasi, trimming
dilanjutkan tahap pemrosesan jaringan seperti dehidrasi, penjernihan,
infiltrasi parafin, pengeblokan, pemotongan, pewarnaan, perekatan dan pelabelan.
- Eutanasia Eutanasia adalah tindakan membunuh hewan
dengan meminimalkan rasa sakit serta mempermudah kematian hewan yang
menderita penyakit berat. Prosedur eutanasi yaitu hewan kehilangan
kesadaran dalam waktu cepat, efek fisiologis rendah dan sesuai syarat dan
tujuan penelitian. Eutanasia bisa dilakukan dengan cara fisik dan zat anastesi
dengan inhalasi serta gas – gas bersifat non anastetik. Eutanasi yang
dilakukan dengan metode fisik misalnya stunning dan cervical dislocation.
Stunning dilakukan dengan memberikan sengatan listrik pada tulang
tengkorak pusat dengan tenaga yang cukup besar. Cervical dislocation
dilakukan dengan cara memberikan tekanan ke bagian posterior dasar tulang
tengkorak dan sumsum tulang belakang sehingga bagian posterior dasar
tulang tengkorak dan sum – sum tulang belakang terpisah.
- Nekropsi
Nekropsi adalah teknik untuk mengetahui penyebab kematian, mengetahui
pengaruh suatu penelitian yang dilakukan terhadap organ coba. Nekropsi
dilakukan segera setelah kematian hewan untuk mencegah degenerasi jaringan
setelah kematian. Menurut Clifton (2011), prosedur nekropsi terdiri dari
observasi perubahan mikroskopik jaringan dan organ secara in situ yaitu
dengan melihat keadaan utuh organ dan melakukan koleksi organ serta
jaringan untuk diteliti lebih lanjut.
- Fiksasi
merupakan proses pengawetan protoplasma sehingga struktur jaringan tetap
stabil dan tidak mengalami perubahan paska mati seperti autolisis yang
disebakan enzim proteolitik dan pembusukan yang disebabkan oleh kuman
pembusuk dari luar tubuh. Fiksasi juga berfungsi memberikan konsistensi
keras sehingga jaringan dapat diiris tipis serta pengaruh terhadap
pewarnaan dan diferensiasi optik. Jaringan yang telah difiksasi selama 24
jam akan tahan dengan perlakuan berikutnya. Larutan fiksasi yang disebut
fiksatif memiliki kemampuan mengubah indeks bias bagian – bagian sel sehingga
dapat dilihat di mikroskop.
- Formalin
dikombinasikan dengan PBS yang direkomendasi sebagai pilihan agen fiksatif
terbaik (Buchwalow, 2010). Kelebihan yang dimiliki larutan PBS Formalin
ini adalah jaringan dapat disimpan lebih lama dan meminimalkan proses
autolysis. Larutan bersifat isotonik dan tidak beracun terhadap sel serta
bertujuan untuk menjaga kadar pH dan mempertahankan osmolalitas sel.
Jaringan direndam di larutan fiksatif selama 24 jam. Jika suatu sel
difiksasi menggunakan larutan fiksatif dengan sifat hipertonik maka sel
akan mudah menyusut, sedangkan jika difiksasi dengan larutan fiksatif
dengan sifat hipotonik maka sel akan mudah mengembang, sehingga dianjurkan
menggunakan PBS Formalin sebagai larutan fiksatif yang baik dan fleksibel.
Karakteristik yang dimiliki formalin adalah mampu menembus dan memfiksasi
jaringan dengan cepat, menyimpan dan mempertahankan lemak, mielin,
serabut-serabut saraf, amiloid, homosiderin dan komponen alat tubuh
lainnya (Salim 2010). Larutan Bouin Larutan bouin adalah larutan yang
dapat menembus sediaan jaringan dengan cepat dan fiksatif yang baik untuk
sediaan sitologi. Lama waktu fiksasi dengan larutan bouin adalah 1 – 12
jam tergantung tebal tipisnya jaringan. Larutan boin seharusnya tidak
digunakan untuk fiksasi jaringan biopsi ginjal (Warsito dan Wuryastuti,
2014).
- Pemotongan (Trimming) Trimming merupakan pemotongan sampel
organ menjadi ukuran yang lebih kecil sehingga memudahkan tahap pembuatan
preparat selanjutnya (Pratomo, 2011). Jaringan yang telah difiksasi selama
24 jam ditiriskan pada saringan kemudian dipotong menggunakan pisau
scalpel dengan ketebalan 1x1 cm disusun ke dalam tissue cassete dan diberi
label (Muntiha, 2001). Dehidrasi (Dehydration) Dehidrasi merupakan tahap
pembenaman jaringan kedalam beberapa larutan etanol dengan konsentrasi
bertingkat. Tujuan dari peggunaan alkohol bertingkat adalah agar tidak
terjadi perubahan yang tiba – tiba pada sel jaringan (Suntoro 1983;
Jhonson, 1994). Dehidrasi bertujuan untuk mengeluarkan seluruh cairan yang
terdapat dalam jaringan yang telah difiksasi sehingga dapat diisi dengan
parafin atau zat lain untuk membuat blok preparat. Setiap sel pada
jaringan hidup mengandung 85% air sehingga parafin tidak bisa masuk
kedalam sel karena terhalang oleh air. Proses dehidrasi harus dilakukan
dengan benar agar tidak ada molekul air yang tertinggal sehingga parafin
bisa menempati posisi dalam jaringan agar didapatkan irisan jaringan yang
utuh dan baik. Reagen yang sering digunakan dalam proses dehidrasi ini
adalah etanol karena tidak menyebabkan pengerasan jaringan dan membuat
jaringan menjadi getas terhadap pemotongan yang tipis. Alkohol absolut
memiliki kemampuan memperkeras jaringan, sehingga jaringan tidak boleh
terlalu lama ditinggal di dalam alkohol absolut (Suntoro, 1983; Hariono,
2009). Proses dehidrasi dilakukan dengan merendam jaringan dalam larutan
alkohol bertingkat dimulai dari etanol 70%, 80%, 90%, 95% masing – masing
selama 3 jam, dan etanol absolut I, II, III masing – masing 1 jam.
- Penjernihan (Clearing) Penjernihan merupakan tahapan
membuat jaringan menjadi jernih dan transparan menggunakan pelarut organik
seperti xilene atau toluene. Tahap ini bertujuan untuk mengeluarkan
alkohol dari jaringan dan digantikan dengan parafin. Proses mengeluarkan
alkohol dari jaringan ini sangat krusial karena bila di dalam jaringan
masih tertinggal sedikit alkohol maka parafin tidak bisa masuk ke dalam
jaringan sehingga jaringan tidak sempurna dalam proses blocking, pemotongan
dan pewarnaan. Proses clearing dapat menggunakan larutan penjernih
misalnya xilene atau xilol dan toluene yang masing – masing memiliki
kekurangan dan kelebihan. Xilol memiliki kelebihan yaitu proses
penjernihan cepat, mudah didapat dan harga tidak terlalu mahal. Kekurangan
dari xilol adalah jaringan tidak begitu jelas dikarenakan perendaman yang
terlalu lama dan akibat dari perendaman pada alkohol absolut sebelumnya.
Jaringan yang terlalu lama direndam dalam xilol menyebabkan mudah rapuh,
mengkerut dan sulit untuk diiris. Penjernihan menggunakan toluene memiliki
kelebihan yaitu mudah, cepat, jaringan akan menjadi jernih atau transparan
bila prosesnya telah selesai dan tidak akan mengkerut walaupun jaringan
direndam lama. Kekurangannya adalah harga lebih mahal dan jaringan cepat
keras dan sukar untuk diiris jika terlalu lama direndam di toluene
(Suntoro, 1983; Jusuf, 2009). Proses penjernihan dilakukan dengan
mencelupkan jaringan dalam larutan xylen I, II dan III masing – masing
selama 40 menit
Adapun larutan-larutan
yang sering digunakan sebagai larutan fiksasi adalah sebagai berikut :
a. Netral
Bufer Formalin 10%.
1.
Aquades 900 ml.
2.
Formalin (37%
formaldehide) 100 ml
3.
. Natrium diHidrogen
Phospat
4.
(NaH2PO4) 4 gram
5.
DiNatrium Hidrogen
Phospat
6.
(Na2HPO4) 6.5 gram
Campurkan semua komponen menjadi satu, dan
ukur hingga pH campuran sebesar 7.2 –
7,4. Ketika pH belum mencapai yang diharapkan maka tambahkan dengan
perbandingan NaH2PO4 dan Na2HPO4 = 1:1,625 hingga pH sesuai, namun kita pH
terlalu basa maka bisa ditambahkan dengan asam asetat sedikit demi sedikit
hingga pH turun sesuai dengan yang diharapkan.
b. Larutan Bouin
1. Asam pikrat 2,1% dalam aquades 1500
ml
2. Formalin
(37% formaldehide) 500 ml
3.
Asam Asetat Glasial 100 ml.
4. Efek
dari penggunaan larutan fiksasi ini akan menghasilkan warna kuning. Warna
kuning ini dapat dihilangkan dengan perendaman di alkohol 70%, lithium karbonat
atau pewarna asam yang dibarengi atau secara terpisah pemberiannya ketika
proses pewarnaan.
TEKNIK PENGELOLAAN
SEDIAAN SITOLOGI
Sitologi adalah
ilmu yang mempelajari morfologi sel-sel cairan tubuh. Cairan itu bisa
kita dapat dengan dua cara tergantung pada tujuan pemeriksaan :
1.
Cairan-cairan yang sudah
keluar lepas dari organ tubuh dan sewaktu-waktubisa kita siapkan dengan mudah.
Contoh : Urine, Sputum.
2.
Cairan-cairan yang
didapat secara aspirasi pada organ tubuh yang dicurigai.
Contoh :
FNAB,C.ascites,C.pleura,Pap smear dll.
Pemeriksaan sitologi
merupakan cara yang mudah, murah, sederhana dan hasilnya cukup akurat.
Faktor-faktor
yang perlu diperhatikan untuk keberhasilan pemeriksaan sitologi:
1. Ketepatan pengambilan
2. Metode fiksasi yang benar
3. Cara pengepakan dan pengiriman sampel
4. Prosesing sitologi terutama pewarnaan sel.
No. 1. dilaksanakan oleh
dokter.
No. 2-4 dilaksanakan
oleh teknisi laboratorium.
Hal-hal yang harus
diperhatikan dalam pembuatan sitologi dan fiksasinya:
1. Kaca objek harus benar-benar bersih, diberi
label supaya tidak tertukar.
2. ¾ dari luas kaca objek memanjang, kita isi apusan
yang rata tidak terlalu tebal atau terlalu tipis.
3. Lakukan fiksasi sesuai dengan prosedur
pewarnaan yang dikehendaki (Papanicolaou dan Giemsa).
4. Larutan yang telah digunakan untuk pewarnaan
Papanicolaou sebaiknya diganti setiap 2 minggu atau tergantung banyaknya
sediaan.
5. Tanda larutan pewarna rusak, yaitu apabila warna
menjadi keruh.
6. Larutan pewarna harus selalu ditutup rapat untuk
mencegah penguapan.
7. Larutan Haematoxylin Harris sebaiknya disaring
setiap hari.
8. Pada pemasangan kaca penutup kaca objek cairan
xylol terlebih dahulu di buang karena dapat terjadi rongga-rongga udara
9. Supaya kaca melekat dengan erat dapat dilakukan
pemanasan ditempat penghangat atau oven temperatur 37oC
Teknik Pewarnaan:
Pewarnaan pada sediaan apus/smear untuk pemeriksaan
sitologi bertujuan untuk identifikasi morfologi sel, inti sel maupun
sitoplasma sel, sehingga bisa memberikan gambaran menyeluruh kondisi
morfologi sel yang diperiksa. Teknik pewarnaan untuk standar pemeriksaan
sitologi, yaitu :
1. Pewarnaan Papanicolaou
Terdapat lima langkah utama
dalam metode pewarnaan Papanicolaou, yaitu :
a. Fiksasi
b. Pewarnaan Inti
c. Pewarnaan sitoplasma
d. Penjernihan ( Clearing )e. Mounting
2. Pewarnaan Giemsa.
Langkah-langkah dalam
pewarnaan Giemsa :
a. Fiksasi
b. Pewarnaan dengan larutan Giemsa
c. Mounting
Informasinya sangat bermanfaat
BalasHapus👍👍 sangat bermanfaat
BalasHapusTerima kasih
BalasHapusArtikelnya bermanfaat👍
Terima kasih. Sangat bermanfaat.
BalasHapusArtikelnya luar biasa
BalasHapusRasanya mantap 🤙
BalasHapusMaa Syaa Allah, ilmunya bermanfaat
BalasHapusBermanfaat mksi
BalasHapusMasya Allah... artikel nya sangat bagus
BalasHapusArtikelnya sangan bagus
BalasHapusSangat Bermanfaat Infox Serta Mudah Di Pahami👌
BalasHapusMasya Allah, artikelnya sangat bermanfaat
BalasHapusTerimkasih infonya sangat membantu
BalasHapusSangat Bagus dapat menambah pengetahuan khususnya di bidang kesehatan
BalasHapusWahhh makasii infonya kk
BalasHapusSangat Bagus dapat menambah pengetahuan khususnya di bidang kesehatan
BalasHapusSangat Bagus dapat menambah pengetahuan khususnya di bidang kesehatan
BalasHapusMasya Allah,artikelnya sangat bagus dan bermanfaat
BalasHapusArtikelnya sangat bermanfaat 👍
BalasHapusMakasih infonya. sangat membantu
BalasHapusMaaSyaa Allah.. Artikelnya Sangat bermanfaat Dan Syukron 'Ilmu nya
BalasHapusIlmunya sangat bermanfaat👍
BalasHapusIlmunya sangat brmanfaat..sangat membantu
BalasHapusilmu yang sangat bermanfaat, ketikannya rapi jadi ga bakal bingung kalo mau baca
BalasHapusArtikelnya sangat bagus dan bermanfaat
BalasHapusArtikel nya sangat bagus
BalasHapusTerimakasih, Ilmunya sangat membantu
BalasHapusTerima kasih atas ilmunya🥰
BalasHapusKeren
BalasHapusyah bisa di bilang bagus
BalasHapusTerima kasih ilmunya
BalasHapusMasyaaAllah terimakasih:)
BalasHapus